Kategori: Tips Bayi

Tips bayi

Stimulasi Motorik – Cara Melatih Bayi Agar Cepat Bisa Duduk

Stimulasi yang tepat akan membantu bayi berkembang dengan optimal. Di satu tahun pertama, setiap bulannya, Mom akan melihat kepintaran si kecil semakin bertambah. Dari yang awalnya hanya bisa tidur terlentang, miring ke kiri dan kanan, trus si kecil sudah mulai tengkurap dan mengangkat kepalanya. Pasti Mom sudah ga sabar ya mau lihat si kecil bisa duduk sendiri? Yuk nonton video selengkapnya di YouTube Baby Talk Club :

Video Cara Melatih Bayi Agar Cepat Bisa Duduk

Kapan bayi bisa duduk sendiri?

Setiap bayi mempunyai tahapan yang berbeda. Menurut dr. Reisa Broto Asmoro, tahap bayi duduk sendiri dimulai sejak usia 4 bulan, dan harus diwaspadai oleh orang tua bila anak belum bisa duduk hingga usia 9 bulan.

Faktor apa saja yang mempengaruhi kemampuan bayi bisa duduk?

Ketika Mom akan melatih bayi duduk, pastikan usianya sudah cukup dan otot tubuhnya sudah kuat menopang tubuhnya. Jangan memaksa bayi untuk segera bisa duduk karena dapat menimbulkan resiko cedera pada tulang leher dan tulang belakangnya. Untuk bisa duduk, bayi membutuhkan kekuatan otot leher, keseimbangan tubuh, serta kekuatan otot bayi dalam menopang tubuhnya.

Apa tandanya bayi siap belajar duduk?

Ketika bayi sudah bisa tengkurap, mengangkat kepala, dan mampu menggerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan, maka itu bisa jadi pertanda bayi sudah siap belajar duduk. Ketiga gerakan tersebut selain membantu menguatkan seluruh otot tubuh, juga bermanfaat memperkuat otot leher, otot perut, dan tulang belakang bayi. Biasanya bayi usia 4 sampai 6 bulan, otot – ototnya sudah semakin kuat, dan kemampuan gerak kasarnya sudah semakin meningkat. Seperti saat sedang berbaring di perutnya, bayi mulai bisa mengangkat kepalanya sendiri karena otot lehernya sudah kuat. Setelah melewati fase ini, bayi akan belajar bagaimana menggunakan tangannya untuk mengangkat dadanya sedikit dari tempatnya berbaring.

Menurut dr. Reisa, ketika bayi berusia 5 hingga 6 bulan, biasanya sudah bisa duduk dengan ditopang. Otot punggung dan lehernya sudah dapat digunakan untuk menahan tubuhnya agar bisa duduk, tetapi Mom tetap harus mengawasinya jika terjatuh dengan meletakkan bantal di sekitarnya. Lama kelamaan bayi akan terbiasa belajar menyeimbangkan diri dengan mencondongkan tubuh atau bersandar pada tangannya. Pada saat ini pula, bayi sudah belajar mengangkat tubuhnya, lalu merangkak. Menginjak usia 7 hingga 8 bulan, bayi sudah bisa duduk sendiri tanpa harus ditopang, bahkan mungkin bayi sudah bisa merubah posisi dari berbaring pada perutnya menjadi duduk tegak sendiri. Kedua tangannya bisa menahan berat tubuhnya saat bayi akan membentuk posisi duduk.

Stimulasi apa yang bisa digunakan untuk merangsang bayi belajar duduk?

Tummy Time
Stimulasi yang paling umum dan mudah dilakukan adalah dengan tummy time. Caranya, kita baringkan bayi pada posisi tengkurap. Posisi tengkurap di tempat tidur akan menstimulasi bayi untuk mengangkat kepalanya. Bayi juga akan menggunakan lengan dan sikunya untuk mendorong tubuhnya ke atas. Mom bisa meningkatkan stimulasi dengan menyentuh bagian punggung dan lehernya.

Tummy time ini banyak manfaatnya untuk menunjang perkembangan kemampuan motorik bayi, seperti merangsang kemampuan bayi untuk menjaga keseimbangan tubuh, melakukan koordinasi pada paha, dan mengontrol gerakan kepala. Selain itu dalam posisi tengkurap, bayi berlatih menggunakan tangannya untuk meraih sesuatu. Tummy time ini bisa dilakukan mulai bayi baru lahir dan saat usia 4 bulan biasanya bayi bisa tengkurap sendiri, biarkan bayi melakukan tummy time sesering mungkin. Saat tummy time, arahkan bayi untuk melihat ke atas dengan menggunakan mainan. Cara ini akan melatih kekuatan punggung bayi.

Gendong Bayi Dengan Posisi Tegak Dengan Disangga
Pada saat menggendong bayi usia 0 – 2 bulan dalam posisi tegak, bayi akan belajar menggunakan otot lehernya untuk menopang kepala. Bantu bayi untuk berlatih sedikit demi sedikit dengan mengubah posisi tubuhnya yang disangga. Mulai dari tubuh bagian atas, lalu berpindah ke tengah. Jika leher bayi mulai cukup kuat, Mom bisa menggendong dengan menyangga pinggulnya.

Bermain Dengan Punggung Di Posisi Terlentang
Bermain dengan bayi pada saat terlentang akan menstimulasinya untuk melakukan gerakan mengangkat bagian tubuhnya, dari tangan hingga kaki. Bayi dapat mengangkat sendiri kedua kakinya hingga didekatkan ke mulut. Gerakan ini akan melatih otot perut bayi yang juga diperlukan untuk menopang tubuh pada posisi duduknya nanti.

Melatih Keseimbangan
Supaya bayi bisa duduk sendiri itu keseimbangannya harus bagus dulu Mom. Meskipun otot – otot tubuhnya sudah mampu menopangnya untuk duduk, tapi si kecil butuh lebih dari itu. Sebelum bayi belajar duduk, otaknya perlu memahami, untuk apa duduk itu. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan mendudukkan bayi, agar bayi tahu, seperti apa rasanya duduk. Dudukkan bayi di kursi bayi, sudut sofa, tempat tidur, atau tempat lainnya dengan permukaan yang rata. Gunakan bantal dan guling di sekitar bayi untuk menjaga posisi tubuhnya tetap dalam posisi duduk tegak. Mom juga bisa mendudukkan bayi di stroller atau high chair / kursi makan bayi. Mom juga bisa memangku bayi.

Olah Raga Untuk Bayi

Pesawat Terbang
Gendong bayi dengan posisi kepala menghadap ke bawah, kemudian bayi diayunkan perlahan. Cara ini akan menstimulasi refleks bayi untuk menarik kepalanya ke atas, sehingga otot lehernya akan semakin kuat.. Tapi selalu perhatikan gerakan bayi dan pastikan bayi tetap aman ya Mom.

Sit Up Bayi
Posisikan bayi tidur terlentang, lalu tarik kedua tangannya perlahan hingga posisinya duduk.

Roll Over
Berfungsi untuk menstimulasi bayi berlatih memutar badan atau berguling. Posisikan bayi tiduran lalu kita arahkan tangannya ke tubuhnya, setelah itu kita roll. Pastikan tangannya ada di depan, lalu kita lihat matanya Mom. Pada saat berguling, otot – otot tubuh bayi saling berkoordinasi dan akan semakin kuat. Dengan latihan terus menerus, bayi akan mampu berguling sendiri untuk persiapan merangkaknya nanti. Perhatikan juga anggota tubuhnya yang lain, agar saat bayi berguling tidak ada bagian tubuh yang berada pada posisi bahaya.

Buka Tutup Tangan
Dudukkan bayi dengan bersandar di tubuh Mom, kemudian tangannya digerakkan membuka dan menutup.

Bermain Gym Ball
Posisikan bayi terlentang di atas gym ball kemudian gerakkan tangan bayi ke atas dan ke bawah.

Bouncing
Posisikan bayi di atas lutut Mom yang sudah diberi alas, kemudian kita bouncing…

Demikian tips untuk melatih bayi agar cepat bisa duduk. Menstimulasi bayi belajar duduk memang butuh perhatian dan kesabaran ya Mom. Selama latihan, perhatikan kondisi bayi, kalau bayi sudah menunjukkan tanda – tanda kelelahan, sebaiknya jangan dipaksakan. Jangan terburu – buru melatih bayi untuk duduk, karena setiap bayi punya momen perkembangannya sendiri, jadi nikmati setiap kejutan milestone dari si kecil ya. Pastinya kita bangga ya Mom kalau si kecil bisa mencapai tahap perkembangan sesuai dengan standar usianya. Kalau pada akhirnya bayi sudah bisa duduk sendiri, persiapkan diri Mom untuk berbagai pencapaian tumbuh kembang berikutnya ya. Bayi tentunya akan semakin aktif dalam menjelajahi dunianya.

Perlukah Bayi dan Anak Memakai Masker atau Face Shield Untuk Cegah Virus Corona? Ini Kata WHO

Penularan virus corona bisa terjadi pada siapa saja termasuk bayi dan anak. Virus ini menyebar begitu cepat di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Selama masa pandemi pemakaian masker sangat direkomendasikan. Tapi, bagaimana dengan bayi dan anak kecil? Memang bayi dan anak lebih rentan terhadap infeksi virus, namun apakah penggunaan masker untuk bayi dan anak-anak aman?

Yuk simak anjuran WHO terkait penggunaan masker pada bayi dan anak-anak di video ini.

Apakah bayi dan anak wajib memakai masker?

Lembaga Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Amerika Serikat menjelaskan bahwa masker tidak boleh dikenakan oleh bayi di bawah usia 2 tahun.

WHO dan UNICEF menyarankan bayi dan anak-anak berusia 5 tahun ke bawah tidak diharuskan memakai masker.

Sedangkan untuk anak-anak usia 6-11 tahun didasarkan pada beberapa faktor seperti kemampuan anak menggunakan masker,

Apakah anaknya bisa memakai masker dengan baik dan benar? Karena jika memakainya tidak pas atau ukurannya tidak sesuai juga akan kurang efektif. Apakah anak mau memakai masker, jangan sampai nanti malah maskernya dibuka tutup pakai tangan, itu malah nanti lebih beresiko karena area wajah jadi sering disentuh oleh anak. Selain itu juga perlu diperhatikan kondisi pandemi di lingkungan, dan tentunya harus ada pengawasan dari orang dewasa.

WHO dan UNICEF menganjurkan agar anak-anak berusia 12 tahun keatas untuk mengenakan masker seperti orang dewasa. Tapi, yang terbaik adalah menjaga anak-anak untuk tetap di rumah saja sebisa mungkin.

Kenapa bayi dan anak-anak tidak harus pakai masker?

Bukannya mencegah penularan virus, memasangkan masker pada bayi justru bisa membahayakan bayi loh mom. Kok bisa ya?

Karena bayi memiliki saluran udara yang lebih kecil dari orang dewasa dan masker menyebabkan bayi lebih sulit untuk menghirup dan menghembuskan napas.

Mom mungkin tidak menyadari kalau bayi mengalami kesulitan bernapas karena bayi belum bisa berbicara. Bayi juga tidak cukup kuat untuk melepas masker, sehingga ini dapat menyebabkan bayi lemas karena kekurangan udara.

Anak di bawah usia 2 tahun tidak terbiasa memakai sesuatu di wajah, jadi mereka malah mungkin akan sering menyentuh masker tersebut. Akibatnya, kuman justru bisa lebih mudah masuk melalui tepi masker dan masuk ke mata, hidung, atau mulut anak. Masker juga kurang efektif ketika dipakai secara tidak benar.

Bagaimana melindungi bayi di ruang terbuka?

Cara terbaik adalah sebisa mungkin Moms harus menghindari mengajak anak bepergian ke ruang terbuka yang banyak orang.

Namun jika kondisinya tidak bisa dihindari, Moms bisa melakukan beberapa tips di bawah ini:

• Gendong bayi: Jika bayi masih cukup kecil untuk muat dalam gendongan bayi, hadapkan dia ke arah Moms dan cobalah untuk tetap dekat dengan tubuh Moms.

• Saat berada di mobil: Jika Moms merasa berat harus menggendong mereka terus, Moms  bisa menempatkan anak di car seat dengan kain penutup. Tapi pilih penutup kain yang tidak menghalangi udara ya, Moms.

• Saat berada di stroller: Jangan lupa untuk menutupi stroller dengan kain penutup juga. Gunakan kain yang memungkinkan udara masuk dan anak bisa bernapas dengan baik. Atau Mom juga bisa memasang atap kereta dorong bayi dan mengenakan selimut pada bayi.

Bagaimana dengan penggunaan face shield pada bayi?

Seorang dokter spesialis anak, dr. Arifianto, Sp.A, menyebutkan pemakaian face shield pada bayi justru bisa menghalangi keluar masuknya oksigen.

Apa yang bisa Mom lakukan untuk melindungi bayi dan anak dari risiko penularan virus corona?

• Pilihan terbaik adalah menghindari membawa bayi dan anak ke tempat ramai. Tapi memang terkadang hal itu tidak memungkinkan dan seringkali ada hal mendesak yang membuat Mama terpaksa mengajak si Kecil ke luar rumah.

• Praktekkan physical distancing. Hindari area yang ramai.

• Cuci tangan secara teratur setidaknya 20 detik dengan sabun dan air. Mama juga dapat menggunakan pembersih tangan berbahan alkohol. Mencuci tangan sangat penting sebelum memegang bayi.

• Virus corona dapat bertahan selama berjam-jam atau berhari-hari di permukaan, jadi ambil langkah-langkah untuk menghindari kemungkinan kontaminasi di tempat umum. Misalnya, membersihkan pegangan kereta dorong di supermarket dengan desinfektan.

Saat keluar rumah misalnya ke rumah sakit untuk imunisasi, Usahakan baju bayinya tertutup semua mom, seperti pakai baju lengan panjang, celana panjang, kaos kaki, sarung tangan, supaya meminimalkan kulitnya bersentuhan langsung dengan benda di RS seperti tempat tidur. Lalu setelah pulang dari RS, langsung mandi dan ganti baju.

• Ajarkan anak untuk tidak menyentuh wajah.

• Desinfeksi area permukaan rumah.

• Pastikan mainan anak tetap bersih.

Yuk, jaga kesehatan dan kebersihan untuk memutus rantai penyebaran virus corona. Semoga Mom sekeluarga tetap sehat ya.

Chat With Us